Pelajaran pertama dimulai di dalam ruang kelas, di mana siswa membedah konsep aerodinamika dasar. Mereka belajar tentang gaya angkat (lift), gaya hambat (drag), serta berat dan dorongan angin. Layang-layang naga memiliki tantangan tersendiri karena strukturnya yang terdiri dari banyak kepingan (disc) yang saling terhubung. Siswa harus menghitung jarak yang presisi antara setiap kepingan agar aliran udara tidak terganggu dan menyebabkan layang-layang jatuh atau berputar tidak terkendali (stalling). Di sini, matematika bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan panduan vital untuk memastikan karya seni mereka dapat menaklukkan gravitasi.
Tahap krusial dari proyek ini adalah saat melakukan uji coba di sepanjang garis pantai Jepara yang memiliki hembusan angin laut yang stabil. Pantai menjadi laboratorium alam di mana siswa mempraktikkan teori yang telah mereka susun. Saat layang-layang mulai ditarik, siswa harus peka terhadap arah dan kecepatan angin. Mereka belajar bagaimana sudut kemiringan setiap kepingan naga memengaruhi stabilitas seluruh badan layang-layang. Proses ini melatih koordinasi motorik dan kerja sama tim yang sangat erat, karena menerbangkan layang-layang naga sepanjang 30 meter memerlukan sinkronisasi tenaga dari banyak orang sekaligus.
Keterlibatan siswa dalam kegiatan Aerodinamika memberikan pengalaman belajar yang holistik. Mereka belajar bahwa kegagalan terbang pertama kali adalah bagian dari pengumpulan data untuk perbaikan struktur. Siswa mulai melakukan modifikasi pada bahan rangka, beralih dari bambu tradisional ke material yang lebih ringan namun kuat, untuk mencari rasio beban yang paling ideal. Keberanian untuk bereksperimen inilah yang menjadi inti dari literasi sains yang ingin ditanamkan oleh pihak sekolah. Di tahun 2026, kemampuan untuk melakukan “troubleshooting” di lapangan adalah keahlian yang sangat berharga.
Selain aspek fisika, pembuatan layang-layang naga ini tetap mengusung nilai estetika tinggi. Siswa menggambar motif naga dengan detail yang mencerminkan kekayaan seni rupa Jepara. Penggabungan antara seni visual dan teknik kedirgantaraan ini menciptakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi para remaja tersebut. Mereka menyadari bahwa warisan budaya bisa tetap relevan jika disandingkan dengan pemahaman ilmiah yang modern. Pantai yang biasanya hanya menjadi tempat wisata, kini bertransformasi menjadi arena unjuk kemampuan intelektual dan kreativitas bagi generasi muda Jepara.