Kegiatan belajar bahasa isyarat ini menjadi salah satu program unggulan yang menarik minat banyak siswa. Dalam sesi pelatihan, siswa diperkenalkan dengan alfabet jari, angka, serta kosa kata dasar yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Di SMPN 1 Jepara, instruktur yang didatangkan adalah praktisi ahli atau penyandang disabilitas rungu yang berpengalaman dalam mengajar. Hal ini memberikan pengalaman autentik bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan narasumbernya. Siswa belajar bahwa bahasa isyarat bukan sekadar gerakan tangan acak, melainkan sebuah bahasa yang utuh dengan struktur dan estetika tersendiri.
Fokus pada tingkat dasar bertujuan agar siswa memiliki kemampuan minimal untuk menyapa dan memperkenalkan diri. Mereka diajarkan isyarat untuk kata-kata seperti “terima kasih”, “maaf”, “tolong”, dan “senang bertemu denganmu”. Latihan dilakukan secara berpasangan agar siswa dapat langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari. Antusiasme siswa terlihat saat mereka mencoba merangkai kalimat sederhana tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Proses ini melatih konsentrasi dan kepekaan visual mereka, serta memberikan perspektif baru bahwa suara bukanlah satu-satunya media untuk menyampaikan perasaan dan pikiran.
Pentingnya pemahaman tentang komunikasi difabel ditekankan sebagai bagian dari penguatan nilai kemanusiaan di sekolah. SMPN 1 Jepara ingin memastikan bahwa siswanya tidak merasa canggung atau bingung saat bertemu dengan penyandang disabilitas di tempat umum. Dengan bekal pengetahuan ini, siswa diharapkan bisa menjadi individu yang lebih terbuka dan inklusif. Mereka belajar untuk menghargai setiap individu tanpa melihat kekurangan fisik sebagai penghalang. Kesadaran ini sangat krusial dalam membentuk masyarakat yang adil dan setara, di mana semua orang memiliki hak yang sama untuk didengar dan dipahami.
Penerapan program di Jepara ini juga menyentuh aspek psikologis siswa. Melalui bahasa isyarat, siswa belajar tentang kesabaran. Komunikasi isyarat memerlukan kontak mata yang kuat dan perhatian penuh terhadap lawan bicara. Hal ini secara tidak langsung memperbaiki kualitas komunikasi siswa secara umum, bahkan saat berbicara dengan orang normal sekalipun. Mereka menjadi lebih peka terhadap bahasa tubuh dan ekspresi mikro lawan bicara. Program ini membuktikan bahwa mempelajari keterampilan yang tampak spesifik seperti bahasa isyarat ternyata memiliki manfaat luas bagi pengembangan kepribadian dan kecerdasan emosional remaja.